HarianNTB.com – Pengakuan mengejutkan dari salah satu mantan Santriwati Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pasalnya, mantan Santriwati berinisial S mengaku sebagai korban pelecehan seksual yang dilakukan pimpinan Pondok Pesantren Abul Barokaat.
Kejadian tersebut terungkap setelah korban S membeberkan kejadian tersebut kepada media Internasional BBC.
Informasi ini kemudian viral di media sosial hingga membuat sejumlah wali santri kaget dan membawa anak mereka pulang dari di Pondok Pesantren.
“Cukup kaget terhadap peristiwa yang sekarang viral di NTB,” ujar H. Iskandar salah satu Wali Santri kepada awak media saat ditemui di Pondok Pesantren Abul Barokaat untuk membawa anaknya pulang, Selasa (22/9/26).
Kepala Komite Pondok Pesantren Abul Barokat kepada awak media menyebutkan bahwa para santri dipulangkan selama tiga hari.
“Dipulangkan sampai batas waktu hari Kamis atas nama pengurus dan komite,” ujar Sahban, kepala Komite Ponpes Abul Barokat kepada awak media.
Sementara itu, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram, Joko Jumadi menjelaskan, bahwa pemantauan kasus ini sudah dilakukan sejak tahun 2024 hingga membuat laporan pengaduan kepada kepolisian pada awal tahun 2025.
“Memantau kasus ini sejak tahun 2024. Kemudian diawal tahun 2025, tepatnya tanggal 3 Februari 2025 kami memang sempat membuat laporan pengaduan dengan satu orang korban tapi kami memahami pada saat itu bukti sangat minim,” jelas Kepala LPA Mataram Joko Jumadi kepada awak media, Selasa (22/9/26).
“Ditengah minimnya alat bukti yang ada teman-teman divisi menawarkan semacam melakukan investigasi bersama dan akhirnya kemudian dari hasil investigasi bersama tersebut alat bukti yang kami dapatkan dan hari ini kami menyampaikan alat bukti itu kepada Polres Lombok Tengah,” jelasnya.
Alat bukti yang dikumpulkan berupa rekaman terduga pelaku dan ada video rekaman istri terduga pelaku.
“Alat bukti pertama, ada rekaman pengakuan dari tuan guru. Kemudian ada video rekaman dari istri tuang guru,” jelasnya.
Saat ini, kata Joko, pihaknya telah mengidentifikasi korban sebanyak 5 orang.
“Cuma sebagian ada di Mesir, ini yang membuat salah satu tantangan besar pengungkapan kasus ini,” katanya.
Namun, kata Joko, bukti-bukti sudah diserahkan kepada kepolisian termasuk bukti-bukti yang dilaporkan oleh Yusron kepada LPA.
Seperti diketahui dalam pemberitaan BBC, Yusron dan teman-temannya melakukan investigasi terkait dugaan pelecehan yang dilakukan pimpinan Pondok Pesantren Abul Barokat.
Yusron bersama temannya menyusun sebuah dokumen sebanyak tujuh halaman, yang berisi nama, kronologi singkat dan kesaksian lima santriwati yang menuduh pimpinan Pondok Pesantren Abul Barokat melakukan pelecehan seksual terhadap Santriwati. (*)

