Senin, Mei 23, 2022

Masih Muda, Gadis Ini Memilih Jadi Seorang Petani Setelah Lulus Kuliah

HarianNTB.com – Sebagian besar orang pasti menginginkan pekerjaan yang mapan di kota dengan gaji yang besar, terutama untuk mereka yang baru lulus dari perguruan tinggi.

Keinginan sebagian orang tua pun demikian, ingin melihat anaknya bekerja kantoran bahkan menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS).

Hal itu dialami Ely Yulianti (25), seorang gadis belia asal Dusun Telaga Banyak, Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara yang diminta oleh orang tuanya untuk kerja kantoran dan mengikuti seleksi PNS.

- Advertisement -

“Mereka (orangtua-red) ingin melihat saya kerja kantoran dan ikut seleksi PNS,” ujar Ely kepada Harian NTB, Rabu (19/1/2021).

Namun, dirinya tidak tertarik untuk bekerja kantoran justru lebih memilih menjadi seorang petani setelah lulus dari perguruan tinggi. Sebuah keputusan yang jarang diambil sebagian orang.

“Kalau kerja di kantor saya itu tidak begitu berminat, lebih suka jadi petani karena hobi. Jujur saya tidak pernah tertarik untuk jadi PNS,” tutur Ely.

Berhasil lulus dari jurusan Pertanian Universitas Mataram pada tahun 2020. Ia kemudian langsung bergelut dibidang pertanian dengan menanam Tembakau, Jagung, hingga Cabe bersama orang tuanya di kampung.

Sebelum lulus kuliah, kata Ely, sudah lama bergelut dibidang pertanian dari SMP sampai SMA, namun berhenti karena melanjutkan studi di perguruan tinggi dan kembali bertani setelah lulus kuliah.

“Saya bertani dari dulu, dari saya SMP sampai SMA, kemudian saya off (berhenti-red) pas kuliah, setelah lulus saya fokus ke tanaman perkebunan,” kata Ely.

Kini, ia mengolah lahan pertanian seluas 1,3 hektar. Ditempat tersebut, ia sudah berhasil menanam cabe besar seluas 90 are, dan sisanya untuk ditanam cabe rawit.

Cabe besar itu ditanam sejak bulan Nopember 2021 dan diperkirakan mulai panen pada Februari 2022 mendatang, dan ditargetkan hasil panen cabe besar sekitar 10 ton.

Selain itu, ia juga menanam cabe rawit yang ditanam menggunakan pupuk organik dari kotoran dan kencing kambing.

“Sekitar seratus tanaman cabe rawit ditanam menggunakan pupuk organik, dan sudah panen,” katanya.

Dari hasil panen cabe rawit tersebut sebagian dijual dan sebagian untuk kebutuhan sehari-hari.

Dikatakan, untuk menjual hasil panen Cabe tidak kesulitan untuk mencari pembeli karena sudah ada kerjasama dengan pembeli dari Sembalun dan pihak Indofood.

“Hasil pertanian alhamdulillah sekarang kita itu sudah ada yang pegang, jadi kalau panen itu sudah ada yang ngambil, kita jual ke bos di Sembalun jadi dia sudah siapkan pasar jadi kita tidak pusing-pusing, kita kerjasama dengan Indofood,” katanya.

Berangkat dari hasil pertanian itu, kata Ely, kemudian orang tuanya tidak lagi menuntut bekerja kantoran karena sudah dirasakan manfaatnya.

“Respon pertama orang tua saya, mereka ingin melihat saya kerja kantoran tapi setelah melihat hasilnya sekarang mereka lebih sadar, jadi tidak menuntut saya lagi harus bekerja kantoran,” tutur Ely.

Selain itu, kata Ely, kini petani holtikultura sudah mulai bermunculan di kampungnya mulai dari tetangga dan teman-temannya. Sebelumnya para petani disekitarnya tidak berani menanam holtikultura karena terkait pasarnya belum jelas.

“Sejak saya menanam holtikultura ini, sekarang sudah lebih dari tiga orang yang tanam, awalnya mereka tidak berani, karena biaya yang tinggi, terus mereka takut pemasarannya kemana, tapi sekarang mereka itu berani karena terjamin tujuan jualnya kemana seperti hasil tani cabe, tomat, dan bawang,” jelasnya.

“Sekarang petani cabe itu sekitar 5 orang di kampung saya, awalnya cuma saya sendiri, sekarang sudah berlima, kalau tomat masih sedikit palingan kita tanem sekitar 200 pohon,” tambah Ely.

Dirinya berharap apa yang dikerjakan tersebut bisa memotivasi para petani dikampungnya untuk lebih memanfaatkan lahannya.

“Semoga dengan apa yang saya kerjakan ini, warga dan teman disekitar kampung saya termotivasi untuk memanfaatkan lahan mereka dan pengembangan lahannya masing-masing. Saya ingin menunjukkan di kampung saya, menjadi petani itu bukan profesi yang tidak menjanjikan tapi itu sangat-sangat menjanjikan jika kita benar-benar tekuni,” kata Ely.

Kini hasil pertanian itu mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari bersama keluarganya, bahkan sudah mengahasilkan puluhan juta dari hasil pertaninannya itu. (DMS)

- Advertisement -

Related Articles

Stay Connected

1,929FansSuka
3,257PengikutMengikuti
19PengikutMengikuti
- Advertisement -

Latest Articles