Sabtu, Januari 29, 2022

World Superbike dan Harapan Bagi Tenaga Kerja di NTB

HarianNTB.com – Gelaran World Superbike 2021 yang diadakan di Sirkuit Mandalika pada 19-21 November 2021 lalu, telah berlangsung dengan meriah dan sukses. Antusiasme penonton sangat terasa selama acara yang berlangsung 3 hari tersebut. Pihak Mandalika Grand Prix Association (MGPA) mengklaim ada sebanyak 15.000 orang penonton yang mengikuti jalannya World Superbike 2021 di Pertamina Mandalika International Street Circuit. Apresiasi layak diberikan kepada segenap panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam jalannya kegiatan besar ini.

Euforia dari World Superbike 2021 ini tidak hanya berdampak kepada masyarakat Lombok Tengah saja, namun wilayah-wilayah lain di Pulau Lombok juga ikut merasakan ‘sensasinya’. PHRI NTB mengakui okupansi hotel NTB, utamanya di Pulau Lombok, naik hingga 100 persen karena adanya World Superbike Ini. Bahkan hotel di sejumlah wilayah di Pulau Lombok sudah full booked hingga November. Berkah dari Wold Superbike ini turut dirasakan oleh para pelaku UMKM. 330 UMKM di NTB mendapatkan izin untuk menggelar jualannya di tenda-tenda yang telah disiapkan di areal sirkuit. Hiruk pikuk para pedagang dan pemilik restaurant juga turut mewarnai aktivitas ekonomi di wilayah Mandalika.

Selain World Superbike 2021, Pertamina Mandalika International Street Circuit juga akan terus menjadi tuan rumah bagi event-event lain, baik itu event dengan skala nasional maupun internasional. Salah satu yang ditunggu-tunggu adalah event MotoGP 2022 yang rencananya akan dilaksanakan pada 20 Maret 2022. Tak hanya MotoGP, Presiden RI juga berharap ajang balap mobil Formula One (F1) dapat berlangsung di Mandalika. Tentu menjadi sebuah kehormatan bagi Indonesia, khususnya bagi Provinsi NTB, untuk dapat menjadi tuan rumah acara bergengsi yang berkelas dunia. Kesuksesan gelaran World Superbike 2021 diharapkan menjadi stimulus sehingga banyak event yang bisa berlangsung di Mandalika ke depannya dan menjadi pemicu pergerakan ekonomi secara periodik bagi NTB. Bisakah KEK Mandalika menjadi asa baru bagi ekonomi NTB ke depan sehingga memperluas kesempatan kerja bagi warga bumi gora?

- Advertisement -

Gelaran event-event nasional dan internasional yang akan diadakan di NTB ini diharapkan menjadi sumber ekonomi baru. Geliat ekonomi tentu akan mendorong penyerapan tenaga kerja. Munculnya aktivitas ekonomi akan membuka peluang lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja di Bumi Gora. NTB telah menyiapkan tenaga ahli dalam hal kepariwisataan melalui Politeknik Pariwisata Lombok di Kabupaten Lombok Tengah. Politeknik Pariwisata Lombok dibentuk untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang berdaya saing global khususnya pada sektor pariwisata. Namun tentu saja hal ini tak cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja jika event-event besar terus berlangsung di Mandalika atau di wilayah lain di Provinsi NTB.

Dalam menyelenggarakan sebuah event besar seperti ini, tentu banyak tenaga kerja yang dibutuhkan demi terselenggaranya event yang berkualitas. Sejatinya, Provinsi NTB memiliki tenaga kerja yang berlimpah secara kuantitas. Badan Pusat Statistik Provinsi NTB mencatat ada sebanyak 2,74 juta orang penduduk NTB yang tergolong dalam angkatan kerja pada Agustus 2021. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran.

Angkatan kerja sejumlah 2,74 juta orang di NTB tersebut siap dan mampu bekerja untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi yang akan dilaksanakan di NTB. Dari 2,74 juta orang tersebut terdapat 3,01 persen orang yang tergolong dalam kategori pengangguran. Jika dihitung secara kasar, ada sekitar 82,5 ribu orang NTB yang menganggur pada Agustus tahun 2021. Adanya event-event yang diselenggarakan di NTB diharapkan mampu membuka lapangan pekerjaan baru sehingga dapat menyerap 82,5 ribu potensi tenaga kerja NTB. Dengan begitu, maka tingkat pengangguran di Provinsi NTB dapat ditekan lebih dalam.

Selain isu pengangguran, satu isu yang jarang diangkat mengenai masalah ketenagakerjaan adalah adanya pekerja tidak penuh atau setengah pengangguran. Badan Pusat Statistik menggolongkan orang yang bekerja ke dalam dua kategori, yaitu pekerja penuh dan pekerja tidak penuh. Pekerja tidak penuh atau setengah pengangguran sebagai mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu) dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan (dahulu disebut setengah pengangguran terpaksa). Setengah pengangguran ini sangat jarang dibahas karena mereka sudah bekerja sehingga ‘tersamarkan’, tak seperti mereka yang memiliki status pengangguran.

Mereka yang tergolong dalam setengah pengangguran ini bekerja di bawah jam kerja normal sehingga produktivitasnya juga tidak seperti pekerja penuh. Produktivitas yang tidak maksimal ini juga berdampak pada kesejahteraan yang dirasakan oleh pekerja tidak penuh tersebut. Selain itu, pekerja tidak penuh seperti ini sangat rawan berubah status menjadi pengangguran. Jika para setengah penganggur ini dapat bekerja secara normal dan menjadi pekerja penuh, maka produktivitasnya juga akan meningkat dan tentu saja akan meningkatkan kesejahteraan mereka. Para pekerja tidak penuh ini seharusnya didukung untuk dapat memiliki keahlian tertentu sehingga dapat bersaing dengan tenaga kerja yang lain dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Bantuan berupa program pendidikan atau pelatihan untuk pengembangan keahlian bagi calon tenaga kerja merupakan yang paling tepat untuk mendukung penciptaan sumber ekonomi baru di NTB. Dalam jangka pendek, program pelatihan bagi calon tenaga kerja NTB sebaiknya spesifik yang mendukung sektor pariwisata. Tanpa adanya keahlian khusus, tentu sangat sulit bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

Jika seseorang telah memiliki keahlian tertentu, ia akan mudah untuk masuk ke pasar kerja dan memiliki nilai lebih untuk bersaing dengan tenaga kerja yang lain. Selain itu, keahlian yang dimiliki oleh seseorang tidak akan mudah hilang dan justru akan semakin berkembang. Dengan keahlian yang semakin berkembang diharapkan ke depannya ia mampu menciptakan lapangan pekerjaan sehingga mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak di NTB. Kualitas tenaga kerja salah satunya dapat dilihat dari keahlian yang dimiliki. Tenaga kerja yang berkualitas tentu akan memiliki kesempataen mendapat pekerjaan yang layak sehingga memiliki pendapatan yang lebih baik. Semoga dengan bertambahnya kesempatan kerja dari gelaran event-event nasional dan internasional di KEK Mandalika akan mendorong hadirnya kesejahteraan masyarakat Bumi Gora. (*)

***

*) Penulis: Anisa Suciningtyas Damayanti – Fungsional Pertama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB

*) Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, bukan tanggung jawab redaksi harianntb.com

- Advertisement -

Related Articles

Stay Connected

1,929FansSuka
3,257PengikutMengikuti
17PengikutMengikuti
- Advertisement -

Latest Articles