Minggu, Oktober 17, 2021

Sektor Pertambangan Menyelamatkan Ekonomi NTB Tahun 2020

HarianNTB.com – Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis indikator pertumbuhan ekonomi tahun 2020 pada tanggal 5 Februari 2021. Pada level nasional, ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami penurunan 2,07 persen dibandingkan tahun 2019. Pada level regional, ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami penurunan sebesar 0,64 persen. Dua provinsi tetangga NTB juga mengalami hal yang sama. Provinsi Bali mengalami penurunan hingga 9,31 persen, sedangkan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami penurunan 0,83 persen.

Kondisi penurunan ekonomi di tengah pandemi covid 19 tahun 2020 sudah diprediksi oleh para ahli ekonomi. Sejak triwulan III 2020, ekonomi Indonesia telah resmi memasuki resesi. Menariknya, penurunan ekonomi yang terjadi di NTB masih lebih baik daripada level nasional maupun dua provinsi tetangga. Di tengah anjloknya kegiatan ekonomi pariwisata, ekonomi NTB hanya turun 0,64 persen pada tahun 2020. Ada apa dibalik angka pertumbuhan ekonomi NTB tersebut?

Merujuk pada rilis pertumbuhan ekonomi oleh BPS Provinsi NTB, salah satu yang menyelamatkan ekonomi NTB pada tahun 2020 adalah sektor pertambangan dan penggalian. Produksi pertambangan bijih logam yang meningkat cukup tinggi pada tahun 2020 telah menahan penurunan ekonomi NTB agar tidak terperosok lebih dalam. BPS mencatat nilai tambah bruto sektor pertambangan dan penggalian tumbuh sebesar 27,65 persen pada tahun 2020. Pertumbuhan tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor lainnya.

- Advertisement -

Tingginya pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2020 membuat sektor tersebut kembali menempati urutan kedua penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pada tahun 2020, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian mencapai 17,37 persen. Hanya sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan yang lebih besar kontribusinya terhadap PDRB NTB yaitu sebesar 23,19 persen. Pada tahun 2019, sektor pertambangan dan penggalian hanya berada di urutan ketiga dengan kontribusi 13,45 persen.

Kondisi subsektor pertambangan bijih logam pada ekonomi NTB sangat dinamis dalam 5 tahun terakhir. Produksi bijih logam yang fluktuatif menjadikan sektor ini terkadang memiliki arah pertumbuhan yang tidak sejalan dengan sektor ekonomi lainnya. Pada tahun 2017 misalnya, pada saat ekonomi NTB secara umum sedang tumbuh cukup baik, penurunan produksi bijih logam yang cukup besar berdampak pada pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian yang minus 19,86 persen. Pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi NTB tanpa bijih logam mencapai 7,06 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi NTB dengan bijih logam hanya 0,09 persen.

Jika pada tahun 2017, sektor pertambangan dan penggalian menjadi penyebab melorotnya pertumbuhan ekonomi, maka pada tahun 2020 sektor tersebut menjadi penyelamat bagi ekonomi NTB. Di tengah pandemi covid 19 yang penuh dengan pembatasan mobilitas manusia, sebagian besar sektor ekonomi mengalami tekanan, terutama yang terkait dengan aktivitas pariwisata. Sektor pertambangan dan penggalian justru mencatatkan pertumbuhan yang tinggi. Pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi NTB tanpa bijih logam turun 5,13 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi NTB dengan bijih logam hanya turun 0,64 persen.

Ujian pandemi covid 19 ternyata masih berlanjut hingga awal tahun 2021 ini dan berpotensi masih menjadi tantangan ekonomi hingga akhir tahun 2021. Berkaca pada potret ekonomi NTB tahun 2020, tentunya ekonomi NTB pada tahun 2021 masih menghadapi tantangan yang cukup rumit. Faktor peningkatan sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2020 belum tentu terjadi pada tahun 2021 mengingat sektor tersebut sangat fluktuatif. Oleh karena itu, pemulihan ekonomi masyarakat bumi gora pada tahun 2021 perlu dirumuskan lebih efektif dan efisien. 

Beberapa poin yang terpotret pada rilis pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2020 bisa menjadi catatan dalam merumuskan pemulihan ekonomi NTB pada tahun 2021. Catatan pertama adalah sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan sebagai penyumbang terbesar ekonomi, ikut mengalami penurunan sebesar 0,43 persen pada tahun 2020. Kondisi ini menjadi alarm bagi ekonomi NTB mengingat 34,68 persen tenaga kerja di NTB, bekerja di sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan (kondisi Agustus 2020).  Selain itu, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan merupakan penyedia bahan baku bagi sektor industri pengolahan. Terganggunya pasokan bahan baku akan berdampak pada menurunnya produksi pada sektor industri pengolahan.

Catatan kedua adalah sektor industri pengolahan perlu melakukan diversifikasi produk hasil olahan dengan memanfaatkan beragam produk pertanian, perikanan, dan kehutanan yang tersedia. Beragamnya produk industri pengolahan akan menghindarkan sektor industri pengolahan sangat bergantung pada ketersediaan beberapa komoditas pertanian, perikanan, dan kehutanan seperti padi, jagung, dan tembakau.

Selain itu, diversifikasi produk hasil industri pengolahan juga perlu mengalihkan orientasi dari ketergantungan pada konsumen wisatawan menjadi berorientasi pada konsumen lokal NTB. Hal ini penting guna mengantisipasi ketika pariwisata membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih. Pada tahun 2020, sektor industri pengolahan mengalami penurunan 2,48 persen.

Catatan ketiga adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mendorong dinamisasi ekonomi perlu terus ditingkatkan. Pemanfaatan TIK yang optimal berawal dari penyediaan infrastruktur TIK yang merata di seluruh wilayah NTB. Selain itu, sumber daya manusia (SDM) NTB harus dipersiapkan untuk memanfaatkan infrastruktur TIK yang ada. Pemasaran berbagai produk baik hasil pertanian, perikanan, dan kehutanan maupun hasil industri pengolahan perlu terus diarahkan memanfaatkan kemajuan TIK. Pada tahun 2020, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 12,40 persen sejalan dengan meningkatnya kebutuhan internet untuk keperluan belajar dan bekerja dari rumah.

Catatan keempat, sektor ekonomi yang terkait erat dengan pariwisata, mengalami penurunan yang dalam pada tahun 2020. Sektor transportasi dan pergudangan mengalami penurunan hingga 31,39 persen dan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami penurunan hingga 28,24 persen. Harapan memulihkan pariwisata melalui momentum tuan rumah olahraga balap motor internasional di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika harus dikawal dengan cermat.

Pembangunan jalan by pass Bandara Internasional – KEK Mandalika, pembangunan Sirkuit Mandalika, serta pembangunan fasilitas pendukung seperti hotel harus diselesaikan tepat waktu. Selain sebagai syarat dan pendukung terlaksananya event internasional tahun 2021, berbagai pembangunan fasilitas tersebut turut berkontribusi menciptakan nilai tambah bruto bagi sektor konstruksi. Sektor konstruksi cukup terpukul pada tahun 2020 dengan penurunan hingga 14,35 persen.(*)

***

*) Penulis: Muhammad Zainuri, M.Stat – Statistisi Muda Bidang Neraca Ekonomi Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statitistik Provinsi NTB

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, bukan tanggung jawab redaksi harianntb.com

- Advertisement -

Related Articles

Stay Connected

1,929FansSuka
3,257PengikutMengikuti
17PengikutMengikuti
- Advertisement -

Latest Articles