Senin, Januari 19, 2026

Masa Depan Sumbawa di Persimpangan: Ekowisata atau Kerusakan Lingkungan

HarianNTB.com — Kerusakan terhadap lingkungan bukan lagi persoalan yang akan dihadapi di masa depan, melainkan kenyataan yang kini mulai dirasakan di berbagai daerah. Perubahan iklim, degradasi ekosistem, serta meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam menjadi tantangan serius, terutama bagi wilayah yang kaya akan potensi alam seperti Sumbawa. Tanpa pengelolaan secara bijak, kekayaan alam tersebut justru berisiko menjadi korban pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Sebagai salah satu daerah dengan bentang alam yang beragam, mulai dari hutan, pegunungan, savana, hingga pesisir dan laut, Sumbawa memiliki peluang besar untuk menjawab tantangan lingkungan melalui pengembangan ekowisata. Ekowisata bukan sekadar aktivitas wisata berbasis alam, tetapi sebuah pendekatan pembangunan yang menempatkan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal sebagai tujuan utama.

Seperti yang disampaikan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, menegaskan langkah tegas Pemerintah Kabupaten Sumbawa dalam menjaga kelestarian lingkungan, terutama terhadap kondisi hutan di kawasan Bendungan Beringin Sila yang kini mulai mengkhawatirkan. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap lingkungan di Sumbawa semakin meningkat. Alih fungsi lahan, pembukaan kawasan hutan, serta aktivitas ekonomi yang belum sepenuhnya memperhatikan daya dukung lingkungan berpotensi mempercepat degradasi ekosistem. Jika pola ini terus berlanjut, Sumbawa berisiko kehilangan fungsi ekologis penting seperti kawasan resapan air, penyangga iklim mikro, dan habitat keanekaragaman hayati.

- Advertisement -

Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, juga membentuk Satuan Tugas (Satgas) Hutan yang bertujuan untuk menindak praktik illegal logging dan menjaga kelestarian lingkungan di sumbawa. Di tengah kondisi tersebut, ekowisata hadir menawarkan solusi yang relevan dan juga berkelanjutan. Pengelolaan wisata alam berbasis konservasi dapat mendorong masyarakat untuk menjaga lingkungan karena keberlangsungan ekowisata sangat bergantung pada kualitas alam itu sendiri. Kawasan seperti Pulau Moyo, Pulau Medang, Semongkat, Tepal, serta daerah aliran sungai dan hutan di Sumbawa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang tetap menjaga keutuhan ekosistem.

Pengembangan ekowisata juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Melalui keterlibatan sebagai pemandu wisata, pengelola homestay, pelaku usaha lokal, hingga penjaga kawasan, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Dengan demikian, ekowisata tidak hanya menjadi instrumen pelestarian lingkungan, tetapi juga sarana penguatan ekonomi masyarakat berbasis lokal.

Namun, keberhasilan ekowisata tidak dapat dilepaskan dari tata kelola yang baik. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya perencanaan yang matang, regulasi yang jelas, serta pembatasan aktivitas wisata sesuai dengan daya dukung lingkungan. Tanpa pengawasan yang ketat, ekowisata berisiko bergeser menjadi pariwisata massal yang justru mempercepat kerusakan alam.

Perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan generasi muda juga memiliki peran strategis dalam mendorong ekowisata berkelanjutan. Melalui riset, edukasi, dan pendampingan masyarakat, ekowisata dapat dikembangkan secara ilmiah dan berkeadilan. Pelibatan pemuda dalam pengelolaan wisata alam menjadi investasi penting bagi keberlanjutan lingkungan Sumbawa di masa depan.

Pada akhirnya, pengembangan ekowisata di Sumbawa bukan hanya sekedar upaya untuk menarik wisatawan, melainkan sebuah pilihan strategis untuk menjaga lingkungan dan keberlanjutan hidup masyarakat. 

Jika dikelola dengan berpihak pada alam dan masyarakat lokal, ekowisata tersebut dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab ekologis. Menjaga alam Sumbawa berarti menjaga masa depan Sumbawa itu sendiri.

Mari bersatu menjaga tanah dan alam Sumbawa, karena masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan lahir dari kepedulian kita hari ini, demi kesejahteraan masyarakat serta kelangsungan hidup generasi yang akan datang. (*)

*) Penulis: Khalidan — Penggiat Lingkungan/Konservasionis

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, bukan tanggung jawab redaksi harianntb.com

- Advertisement -

Related Articles

Stay Connected

1,929FansSuka
3,257PengikutMengikuti
22PengikutMengikuti
- Advertisement -

Latest Articles